5 Traditional Games yang Mengoptimalkan Kecerdasan Anak di Bawah 10 Tahun

5 Traditional Games yang Mengoptimalkan Kecerdasan Anak di Bawah 10 Tahun

Banyak orang tua yang masih beranggapan bahwa kecerdasan anak dipengaruhi kuantitas dan kualitas belajarnya. Padahal, kecerdasan anak, terutama yang usianya di bawah 10 tahun berkaitan dengan aktivitas yang mempengaruhi tumbuh kembang anak yang bersangkutan, misalnya bermain traditional games. Contoh-contohnya yaitu sebagai berikut.

  1. Lompat Tali

Alat yang digunakan untuk melakukan permainan ini sangat sederhana yang berukuran panjang dan dibuat dari karet. Bahkan, seringkali dibuat dai kumpual karet bekas yang dijalin sedemikian rupa sehingga sering terlihat warna-warni. Tapi saat ini, sudah banyak warung yang menjualnya seharga Rp2 ribu.

Banyak hal yang bisa dilatih dari traditional game yang satu ini. Pertama, kreativitas dalam menyusun karet menjadi tali. Kemudian, membuat estimasi, ketelitian, dan akurasi jarak agar tidak menyentuh karet saat melompat. Motorik kasar, emosi, sosialisasi, dan intelektual juga ikut terlatih. Sedangkan untuk pertumbuhan, permainan ini jelas membuatnya cepat tinggi.

  1. Congklak

Meski bermain congklak tidak sesulit catur, tetap saja permainan ini butuh strategi dan daya pikir yang cukup dalam untuk anak usia di bawah 10 tahun. Perkembangan kecerdasan emosional dan psikososial anak akan semakin optimal dengan congklak. Selain itu, kemampuan berhitung mereka juga bisa semakin meningkat.

Permainan yang disebut ‘dakon’ dalam Bahasa Jawa ini melatih kemampuan motorik halus, terutama saat menyebarkan biji congklak. Anak yang sering memainkan permainan ini, biasanya bisa lebih sabar dn sportif karena sangat jelas siapa yang menang dan kalahnya.

  1. Petak Umpet

Jika dibandingkan dengan traditional games lainnya, petak umpet inilah yang sama sekali tidak butuh alat untuk memainkannya. Tumbuh kembang anak di bawah 10 tahun pun bisa lebih optimal dengan memainkan permainan yang satu ini. Kemampuan motorik halus dan kasarnya berkembang saat si kecil mendapat giliran bermain.

Dia akan berusaha berpikir dan bergerak cepat untuk menemukan tempat persembunyian yang tepat. Begitupula saat dia mendapat giliran ‘jaga’, kecerdasasan emosional dan psikososialnya berkembang, termasuk jiwa sportifitas di dalamnya. Sebagai orang tua, Anda hanya perlu mengingatkan agar dia tidak bermain petak umpet terlalu jauh dan berhati-hati.

  1. Bermain Kelereng

Permainan kelereng masih populer sampai saat ini. Traditional game yang satu ini melibatkan mainan dari bahan semen dan kapur serta berbentuk bulat. Asa juga yang dibaut dari batu wali. Kecerdasan motorik halus yang paling berkembang saat si kecil sering bermain kelereng, terutama saat telunjuk dan ibu jarinya berusaha menyentil biji kelereng.

  1. Cublak-cublak Suweng

Permainan ini menjadi salah satu traditional games yang difavoritkan anak-anak di bawah 10 tahun karena memang sangat seru memainkannya. Meski demikian, permainan ini bukan sekadar seru-seruan, tapi ada kecerdasan emosional yang dilatih di sini. Misalnya dalam hal menaati peraturan yang diberlakukan selama permainan berlangsung.

Dengan melihat ragam permainan tradisional di atas, sangat jelas bahwa tumbuh kembang anak di bawah 10 tahun bisa lebih optimal dengan permainan. Apalagi dunia mereka memang identik dengan bermain, tentu tidak sulit mengarahkan mereka untuk melakukannya. Dengan sedikit dorongan, perhatian mereka bisa dialihkan dari gadget ke traditional games.